Rabu, 27 Desember 2023

 

Mengenal dan Memahami Duck Syndrome


Penulis: Glory Sepsi Sinaga, S.Psi


 

“Diatas panggung mereka terlihat seperti orang paling bahagia

Siapa yang tahu dibelakang panggung?”

 

 

            Tampan, cantik, terkenal dan selalu ceria adalah tampilan yang selalu ditunjukkan oleh idol korea. Sebagai penggemar idol korea sejak kecil, saya selalu menyangka kehidupan mereka sangat sempurna. Punya kulit yang bagus, wajah yang indah, bisa menari, menyanyi, pakaian yang keren, dan bisa acting juga. Idol korea juga punya penggemar di berbagai belahan dunia, dan mengadakan tour konser dari negara satu ke negara yang lainnya. Tampak sangat wow kehidupannya. Tapi dibalik semua keindahan itu, para idol  ini harus mengorbankan banyak hal.

Beberapa media membongkar sisi gelap atau sisi sulitnya menjadi seorang idola korea (Lina, 2019). Mulai dari harus melewati masa trainee yang sangat lama,  para anggotanya ada yang hanya minum air putih untuk menurunkan berat badan, sangat dituntut untuk diet supaya badan tetap sempurna dan jangan lupa budaya operasi plastik. Ada juga 2-3 tahun sejak debut tidak diberi salary, kehidupan pribadi yang sangat dibatasi (misalnya dilarang berkencan), harus selalu menujukkan kepribadian yang positif, harus ceria, intinya kepribadian harus sama sempurna-nya dengan wajah mereka. Baru-baru ini juga terbongkar idol kpop wanita harus minum pil KB supaya tidak datang bulan. Karena datang bulan cukup menganggu aktivitas para idol wanita tersebut. Jadi tidak heran banyak idol mengalami gangguan mental, depresi sampai bunuh diri.

Jika melihat social media seseorang, tampaknya hidup mereka baik-baik saja, indah, seperti tidak ada masalah. Traveling, kuliner-an, stay cation, punya barang-barang branded, tapi siapa yang tahu kehidupan offline-nya seperti apa. Setiap orang selalu berusaha memperlihatkan bahwa kehidupannya sempurna dan bahagia. Jarang ada yang memperlihatkan bahwa hidup mereka sedang dilanda banyak masalah. Banyak kasus bunuh diri artis, musisi, yang menggemparkan pengemarnya. Karena penggemar merasa selama ini mereka terlihat fine-fine saja. Apakah soulmate LYS punya orang terdekat yang tampaknya kehidupannya selama ini sempurna dari tampilan luar mereka, tapi ternyata bagian dalam diri sangat berantakan? Atau mungkin itu adalah diri kita sendiri? Jangan sampai ternyata kita yang terkena duck syndrome ya.

Duck Syndrome, yaitu suatu keadaan dimana seseorang terlihat baik-baik saja,  padahal  sedang  berjuang  sekeras mungkin untuk menanggulangi berbagai masalah yang sedang dihadapi. Istilah ini diambil dari analogi seekor bebek di sungai  yang berenang anggun kesana kemari, padahal kakinya di bawah permukaan air bergerak terus-menerus menjaga keseimbangan badannya supaya tidak tenggelam. 

Duck syndrome (Sindrom bebek berenang) merujuk pada perilaku dimana seseorang dari luar (penampilannya) terlihat tenang, cool, kalem tetap sebenarnya sedang diliputi banyak kecemasan (Dewi, 2021). Duck Syndrome atau sindrom bebek pertama kali dikemukakan di Stanford University, Amerika Serikat, untuk menggambarkan persoalan para mahasiswanya (Standford University, Student Affair,2021).

           Banyak orang mengidentifikasikan diri mereka dengan gambaran ini karena mereka merasa harus menjaga ketenangan sambil berjuang untuk mengimbangi orang lain. Duck Syndrome, bukanlah penyakit mental atau diagnosis kesehatan mental yang formal (Stanford University Student Affair, 2021). Fenomena ini paling sering dialami oleh orang-orang dewasa, terutama dewasa awal (18-40 tahun) dan dewasa madya (41-60 tahun).

     Perkembangan psikososial pada dewasa awal menurut Erikson adalah intimasi (intimacy) versus isolasi (isolation) merupakan isu utama pada dewasa awal. Seorang dewasa awal tidak dapat membuat komitmen personal yang dalam terhadap orang lain (intimacy), menurut Erikson, maka mereka akan terisolasi dan self absorb (terpaku pada  kegiatan dan pikirannya sendiri. Disisi lain, mereka juga butuh kesendirian (isolasi) sebagai upaya merefleksikan kehidupan yang mereka miliki. Ketika mereka berusaha menyelesaikan kehidupan yang mereka miliki. Dewasa awal berusaha menyelesaikan tuntutan saling berlawanan tersebut mereka mengembangkan pemahaman etis, yang dianggap Erikson sebagai tanda kedewasaan (Papalia dkk, 2009). Tujuan yang diinginkan oleh setiap individu yang berada dalam usia dewasa awal adalah membangun identitas yang matang dan memiliki hubungan yang dekat dan positif dengan orang lain. 

Pada tahap ini, ada yang baru saja masuk perguruan tinggi, menyesuaikan diri dari siswa SMA menjadi mahasiswa. Ada yang sudah seharusnya membangun karir, memilih pasangan, membina rumah tangga, dan dituntut mengenai kemandirian. Terjadi konflik-konflik relationship misalnya diselingkuhi, patah hati, teman yang semakin sedikit, dan konflik-konflik lainnya yang berhubungan dengan relasi dengan orang lain. Kesepian, ketakutan dan keterasingan  rentan dialami orang dewasa.

Dituntut harus serba bisa dan selalu tampak kuat karena sudah dewasa, membuat seseorang  selalu menampakkan dirinya bahwa ia baik-baik saja, dan tampak bahagia dari luar. Takut dibilang cengeng, rapuh, gak punya kehidupan, membuat orang muda jarang mengakui emosi  yang ia alami. Sulitnya menemukan teman yang bisa dipercaya, tidak mudah membangun  relationship dengan lawan jenis adalah factor yang lain. Memakai topeng setiap hari ke tempat kerja, di keluarga dan dimana saja. Merasa baik-baik saja tidak memiliki pasangan, disisi lain sebanarnya selalu merasa kesepian.

Usia 40-an yaitu dewasa madya biasanya adalah orang-orang memberi tekanan pada diri mereka sendiri untuk berhasil atau merasa bahwa mereka harus memenuhi ekspektasi yang tinggi. Hidup mereka harus sempurna, diam-diam bekerja keras untuk menjaga semuanya tetap terkendali. Berpolitik di tempat kerja supaya cepat naik jabatan tidak peduli teman makan teman. Tas harus branded, rumah harus mewah, anak harus sekolah di sekolah yang bonafit, jangan lupa kalau kekondangan harus memakai perhiasan terbuat dari emas berlian. Apapun itu, supaya orang lain memandang hidup mereka sangat perfect. Belum lagi tuntutan social media, tempat instant  membandingkan diri.

Hal inilah yang menyebabkan orang dewasa rentan terhadap duck syndrome. Meski merasakan banyak tekanan dan stres, sebagian penderita duck syndrome masih bisa produktif dan beraktivitas dengan baik. Namun, orang yang mengalami duck syndrome dalam jangka panjang berisiko untuk mengalami masalah kejiwaan tertentu, seperti gangguan cemas, depresi bahkan bunuh diri (Stanford University Student Affair, 2021).

Gejala lainnya adalah:

1.       Perfeksionis

2.      Timbul rasa insecure, suka membandingkan diri dengan orang lain

3.      Tidak mencintai proses yang terjadi dalam diri sendiri

4.      Gangguan tidur dan gangguan makan

5.      Kesulitan menenangkan pikiran

6.   Sampai perubahan pola makan dan minum alcohol berlebihan

  Gejala diatas bisa saja menyerupai gangguan mental lainnya, tapi yang perlu di highlight adalah memaksakan diri seakan tampak baik-baik saja, tidak terbuka kepada orang lain, karena takut menjadi bahan pikiran. Dan menganggap bahwa sedang diamati dan diuji oleh orang lain, sehingga harus menujukkan kehidupan yang bahagia. Jika kamu mengalaminya saat ini, kamu mungkin takut dengan apa yang akan dipikirkan orang lain jika mereka mengetahui bahwa hidup kamu tidak sempurna. Kamu mungkin merasa, bahwa tidak ada yang bisa memahami apa yang kamu alami.

        Kita semua mengalami masa-masa naik dan turun, dan penting bagi kita untuk mengakui hambatan-hambatan yang ada dan mencari dukungan daripada terus-terusan mengayuh ke atas permukaan. Seperti kepala bebek tenang yang meluncur melintasi air permukaan, tapi kakinya susah payah mengayuh dibawah permukaan air.

Lakukanlah sesuatu supaya tetap mendapatkan dukungan saat kamu berada di masa sulit kamu ya Soulmate LYS! Supaya hidup tidak berpura-pura.

Pertama, jangan biarkan kamu terpuruk sendirian, berpura-pura mampu menjalani sesuatu itu tidak mudah, apalagi dalam jangka waktu yang sangat lama. Jika sudah pakai topeng ditempat kerja, cari sumber daya/seseorang dimana kamu tidak perlu memakai topeng. Bisa teman kamu, bisa keluarga atau orang-orang terdekat. Bicaralah dengan mereka, apa yang sebenarnya benar-benar terjadi dalam hidup kamu. Kamu juga bisa melakukan jurnalling.

Kedua, carilah komunitas-komunitas sebagai wadah kesehatan mental kamu. Dengan tidak berpura-pura menjalani segala sesuatu, kita juga dapat membuat lebih banyak kemajuan dalam diri kita dan membantu orang lain.  Menyadari bahwa tidak apa-apa untuk merasakan tekanan ini dan bahwa aku, kamu, kita tidak sendirian. Kita dapat belajar untuk saling mendukung dengan menyuarakan perjuangan kita bersama-sama.

Ketiga, terbiasalah untuk  mencintai diri sendiri. Mengenali kemampuan, kekuatan, kelemahan, sehingga tidak memaksa diri untuk menjalani hidup diatas kapasitas kemampuan diri kita. Jangan membuat kecepatan orang lain menjadi kecepatan kamu.Waktu setiap orang berbeda-beda lho. Orang lain menikah, kamu jadi panik karna belum ada pasangan. Orang lain self recharge ke luar negeri, kamu juga ingin. Orang lain ganti handphone, orang lain beli tas branded  kamu juga ingin, sampai-sampai kamu mau terlibat pinjol (pinjaman online). Apalagi ikut-ikutan orang lain punya sugar daddy. Jangan yaa!

Terakhir, kalau sudah sampai ditahap kecemasan yang sangat menganggu, memiliki pemikiran self harm  atau sampai bunuh diri dan tidak bisa kamu kendalikan. Segera temui psikolog untuk konseling atau psikoterapi.

 

"Kalau merasa sedih, sedihlah, jangan berpura-pura tidak sedih. Kalau memang bahagia, bahagialah. Hidup terlalu singkat untuk dilewati dengan berpura-pura kuat."

 

 

"Hal tersulit ketika kamu berpura-pura kuat adalah orang-orang mulai berpikir bahwa kamu pasti akan baik-baik saja meski disakiti."

 

 Referensi:

Dewi, R. Z. (2021). Komunikasi Asertif Pada Mahasiswa Duck Syndrome Di Mojokerto. Jurnal komunikasi dan Sosial Humaniora, 2, 1-12.

Dokter, A. (2021). Aldo Dokter. Retrieved from Duck Syndrome, Gangguan Psikologis yang Banyak Dialami Orang Dewasa Muda: https://www.alodokter.com/duck-syndrome-gangguan-psikologis-yang-banyak-dialami-orang-dewasa-muda

Lina. (2019). IDM TIMES. Retrieved from 7 Sisi Gelap di Balik Gemerlap dan Popularitas Idola KPop: https://www.idntimes.com/hype/entertainment/lina-2/7-sisi-gelap-di-balik-gemerlap-dan-popularitas-idola-kpop-c1c2?page=all

Papalia, D. E., Old s, S. W., & Feldman, R. D. (2009). Human Development Perkembangan Manusia.     Jakarta: Salemba Humanika.

University, S. (2021). Stanford University Student Affair. Retrieved from In Focus: Don’t Be a Duck! How to Resist the Stanford Duck Syndrome: https://studentaffairs.stanford.edu/the-flourish/flourish-october-2022/focus-dont-be-duck-how-resist-stanford-duck-syndrome#:~:text=The%20Stanford%20Duck%20Syndrome%20is,duck%20gliding%20across%20a%20fountain.



 Dopamin Detox : Breaking the Habit of Dopamin Toxivity

Dalam Kehidupan Serba Instant untuk Hidup Lebih Berkualitas

Penulis : Glory Sepsi Sinaga, S.Psi

Hai hai Soulmate LYS ! siapa diantara soulmate LYS yang biasanya scroll reel social media, nonton video youtube, main instagram, sampai berjam-jam atau main game sampai lupa waktu? Saat sedang jenuh dengan rutinitas pasti kita akan kembali lagi dengan membuka sosial media dan langsung merasa refresh. Namun, ketika membaca buku, belajar, bekerja,  baru lima sampai sepuluh  menit rasanya mengantuk dan bosan 😴. 

Sering Go-food makanan siap saji dan jarang olahraga atau lebih suka minum minuman kekinian yang kadar gulanya tidak baik bagi tubuh? Semakin majunya teknologi semuanya menjadi serba instan, begitu pula dengan kebahagiaan.

    Ketika melakukan semua aktivitas diatas, secara otomatis langsung merasakan kebahagiaan dan stress berkurang. Kita sering menganggap aktivitas diatas adalah aktivitas yang menyenangkan. Namun, aktivitas tersebut  bisa menjadi kebiasaan buruk lho. Karena sering menganggu pekerjaan utama dan menyebabkan kecanduan.  Kebiasaan impulsif seperti itu jika dibiarkan akan berefek jangka panjang yang tidak sehat. Karena perilaku impulsif bisa menyebabkan masalah yang berkaitan dengan kesehatan psikologis.

     Atau pernahkah ketika merasa stress dan sedih, soulmate LYS memilih makan enak, nonton film, main game, namun tidak lagi merasakan kesenangan? seakan-akan tubuh ini butuh sesuatu yang lebih menyenangkan? merasa kehilangan esensi kesenangan dan kebahagiaan yang sesungguhnya? Karena kebahagiaan  sering didapatkan  dengan cara yang mudah dalam waktu yang singkat. Hal ini akibat selalu membanjiri otak dengan dopamin. Pola ini juga  membuat  kesehatan psikologis bertambah buruk (Sukma, 2023).

Jika soulmate LYS saat ini merasa terjebak dalam situasi  yang dijelaskan diatas, soulmate LYS butuh Dopamin Detox.

    Sebelumnya apa sih Dopamin itu? Dopamin adalah hormon di dalam otak yang dapat meningkat secara alami saat seseorang dalam perasaan senang. Dopamin disebut sebagai happy hormone (hormon yang memunculkan rasa bahagia). Jika seseorang melakukan kegiatan yang menyenangkan, senyawa dopamine bisa meningkat. Dopamin atau hormon kebahagiaan ini jika dilepaskan dalam jumlah besar (dopamine toxivity), akan menyebabkan ketergantungan dan kecanduan (addiction).

Berikut ini adalah ciri – ciri orang yang mengalami dopamine toxivity:

  1. Sering Insomnia
  2. Mudah gelisah dan rentan stress
  3. Mengalami perasaan terlalu bersemangat dan susah dikontrol
  4. Pikiran dan perhatian mudah teralihkan
  5. Kesulitan untuk fokus, otak tidak bisa lagi menghasilkan hal-hal yang kreatif. 
  6. Emosi tidak terkendali
  7. Sering malas bekerja dan menunda-nunda pekerjaan (hanya ingin surfing social media, main game, nonton film berjam-jam)

Jika ciri-ciri diatas sudah soulmate LYS rasakan, segera lakukan Dopamine Detox.  Dopamine Detox adalah suatu cara mereset sistem otak, agar otak tidak bergantung dengan rangsangan tertentu. Tentang bagaimana kita menghindari terlebih dahulu dorongan-dorongan yang sekiranya membuat kita candu dan terlena. Dengan mengubah kebiasaan yang tidak produktif, menjadi lebih produktif. Manfaatnya antara lain punya banyak waktu untuk hal-hal yang jauh lebih bermanfaat, lebih mampu memperhatikan kesehatan mental dan meningkatkan fokus sehingga produktif dalam pekerjaan utama.

Dopamin Detox atau detoksifikasi dopamine adalah salah satu  bentuk Cognitive Behaviour Therapy yang dicetuskan  oleh Dr. Cameron Sepah,  seorang psikiater California untuk  membantu orang mengelola perilaku adiktif (PsychCentral, 2023).

           Soulmate LYS  juga bisa melakukan dopamine detox sendiri lhoo!

  •   Pertama, temukan komunitas yang bermanfaat, yang mampu membantu kalian lebih aware tentang kesehatan mental kalian. Sehingga kalian lebih sering bersosialisasi dengan orang lain, sharing, wawasan juga bertambah.
  • Kedua, kegiatan dunia maya digantikan dengan kegiatan-kegiatan fisik di dunia nyata. Misalnya berjalan kaki, jogging, memasak, berkebun, menyulam, menekuni fotografi, membaca buku, menata kembali rumah, kamar atau kegiatan kreatif lainnya.
  • Ketiga, membuat batasan dalam menggunakan social media. Menekankan pada diri sendiri untuk menyelesaikan pekerjaan sesungguhnya sebelum larut main game, atau surfing social media. Membuat batasan waktu, misalnya stop bermain handphone 2 jam sebelum tidur dan memilih membaca buku atau kitab suci sesuai kepercayaan masing-masing
  • Keempat, Mengoptimalkan mindfulness selama menerapkan dopamine detox supaya jangan cepat relaps.
  • Kelima, bisa ambil jeda, tidak melakukan aktifitas apapun. Misalnya, ketika weekend atau  ada waktu luang, benar benar hanya duduk di taman, menikmati udara yang sejuk tanpa aktivitas apapun.
  • Keenam, mengubah kebiasaan pola makan dan minuman siap saji dengan lebih banyak makan sayur dan buah.
  • Ketujuh, jika soulmate LYS merasa kebiasaan impulsif ini semakin parah,  kesulitan dan tidak mampu melakukan dopamine detox secara individu, segera minta bantuan professional,  konsultasi ke psikolog atau psikiater.
Buat Soulmate LYS yang ingin mengenal lebih dalam mengenai Dopamin Detox, boleh banget baca buku Dopamine Detox : A Short Guide to Remove Distractions and Get Your Brain to Do Hard Thing by THIBAUT MERISSE. 
See you at a good time Soulmate LYS💗

Referensi :

PsychCentral. (2023, January , 27). What is Dopamine Fasting? Retrieved from PsychCentral: https://psychcentral.com/blog/dopamine-fasting-probably-doesnt-work-try-this-instead#recap

SUKMA, H. A. (2023). Mengendalikan Dopamin Detox. Literaksi : Jurnal Manajemen Pendidikan, 1, 261-265.

Vaillancourt, D. E., Schonfeld, D., Kwak, Y., I, N., MD, B., & Seidler, R. (2014). Dopamine overdose hypothesis: Evidence and clinical implications. NIH Public Access, 1-17.



Kamis, 23 November 2023

 Pentingnya Mengekspresikan Emosi dan Bahaya Supresi Emosi


Penulis : Glory Sepsi Sinaga, S.Psi

  Kita pasti sering menekan emosi kita, daripada mengekspresikan emosi yang sedang kita rasakan. Terkadang emosi yang ditekan sering kali berakar dari pengalaman masa kanak-kanak. Orangtua yang pilih kasih, lebih memusatkan perhatian kepada si sulung atau si bungsu sehingga anak tengah selalu terabaikan. Sehingga muncullah sibling rivalry. Anak pertama selalu dituntut mengalah, menjadi penurut supaya menjadi contoh bagi adik-adiknya. Anak selalu dituntut berprestasi di sekolah, berkelakuan baik, dan harus mendapatkan nilai A. Harus begini, harus begitu, supaya selalu baik dimata orang lain. Jangan begini, jangan begitu, malu sama orang lain. Si anak dipaksa menjadi dokter,  padahal sebenarnya ia ingin jadi koki.

Anak jarang diberikan ruang untuk mengekspresikan emosi yang ia rasakan. Tidak pernah ditanya, bagaimana perasaan yang ia rasakan sesungguhnya? sebenarnya ia ingin menjadi apa?. Tidak jarang jika anak berbuat sesuatu yang tidak dikehendaki orang tua, anak akan dibentak, dimarahi, dan dipukul. Dan ketika anak memberikan opininya, karena merasa dalam sebuah situasi yang ia lakukan adalah benar, orang tua akan mengeluarkan kata yang menjadi senjata utama mereka “kamu melawan, mau jadi anak durhaka?”. Akhirnya, si anak tidak berani lagi mengekspresikan emosinya. Pola pikirnya terbentuk, mengekspresikan emosi sama dengan anak durhaka.

Salah satu budaya yang sudah mengakar di masyarakat Indonesia adalah budaya tidak enakan. Tidak to the point terhadap suatu situasi yang membutuhkan penilaian jujur. Perasaan sungkan, perasaan takut suasana menjadi lebih buruk atau dalam relationship takut kehilangan pasangan. Akhirnya, kita mengabaikan perasaan kecewa dalam diri kita, menjadi people pleasure, “Asal Doi Senang” Asal Orang Tua Senang”. Belum lagi pernyataan laki-laki tidak boleh menangis, itu tandanya cengeng, laki-laki itu harus kuat. Jadi perempuan harus lebih mendengar, jangan terlalu speak up, harus lemah lembut dan sebagainya. Dan entah kenapa, ketika melakukan hal ini, kita merasa seperti sedang melakukan hal-hal yang baik.  Setidaknya itulah yang kita anggap sampai kita sadar pentingnya mengekspresikan emosi setelah beranjak dewasa.

Kita sering tidak mengekspresikan emosi yang kita rasakan dan alih-alih malah melakukan supresi emosi.  Pernahkah kamu merasa sakit hati dengan perlakuan atau omongan orang terdekatmu, bisa teman, pacar atau orang tua kamu? Kamu sudah sangat ingin marah sekali, kamu bahkan ingin memaki, kamu mungkin memukul orang tersebut. Namun, kamu memilih menekan amarah mu, kamu menutupi pikiran dan perasaan mu terhadap dorongan rasa marah mu. Dan kamu sangat sadar dengan apa yang kamu lakukan itu. Sering merasa kecewa kepada keluarga dan orang lain. Namun, tidak berani menunjukkan sikap kekecewaan tersebut kerena memikirkan efek yang akan ditimbulkan.

Ketika sedang patah hati, dunia yang kamu rasakan seolah-olah runtuh. Mengurung diri berhari-hari dikamar tidur, memandangi foto pacar serta mengingat kenangan–kenangan yang pernah terjadi. Jika ini dilakukan dalam jangka 1-3 hari masih bisa diterima. Tapi kalau sudah jangka panjang, tidak melakukan sesuatu yang membantu keluar dari perasaan patah hati, bisa terjadi hal- hal yang tidak diinginkan.

Contoh lainnya adalah merasa cemas karena akan terpilih presentasi dikelas, merasa khawatir, takut presentasi jelek, dan diejek satu kelas? Tapi bukan mempelajari materi yang akan dipresentasikan, kamu malah memilih menonton drama korea, main game, membuka social media berjam-jam untuk menghilangkan rasa cemasmu. Bukan menghadapinya, malah menekan emosi tersebut dan lari ke hal-hal yang membuatmu merasa nyaman. 

Menurut Sigmund Freud, Supresi adalah salah satu defense mechanism dalam diri manusia yaitu menekan reaksi yang mendadak terhadap situasi yang ada, sehingga memberikan cukup waktu untuk lebih menyadari dan memberikan reaksi yang lebih konstruktif.  Supresi berarti tindakan yang dilakukan secara sadar untuk menutupi pikiran, perasaan atau dorongan terhadap perilaku tertentu (Shultz, 2017).

“Misalnya, merasa kesal pada orang terdekat karena hal yang dibicarakannya sangat menyakitkan hati. Ketika situasi berlangsung, memilih untuk diam, alih-alih untuk memberontak. Takut orang tersebut lebih sakit hati. Lebih memikirkan perasaan orang lain. Tapi cobalah tetap menyampaikan rasa kesal tersebut dengan bahasa yang lebih bisa diterima. (ini adalah situasi yang masih bisa dikendalikan oleh individu).

Dalam situasi tertentu ada kalanya supresi baik dilakukan. Namun, setelah melakukan supresi, diharapkan segera memberi respon yang kontruktif. Supresi dilakukan dengan sadar atau sengaja. Kita dengan sengaja melupakan sesuatu atau mengalihkan pikiran dari hal yang tidak membuat nyaman. Supresi emosi akan menjadi berbahaya dilakukan dalam waktu yang sering dan jangka waktu yang lama.

Bahaya Supresi Emosi. Supresi emosi dalam waktu yang sangat lama dapat menyebabkan kesehatan mental yang serius. Mood swing, kecemasan, depresi, merasa tidak berharga, self esteem yang rendah. Penelitian menunjukkan bahwa supresi emosi menyebabkan stres berkepanjangan. Stres kronik yang menuntut, melelahkan mental dan bisa menyebabkan kanker yang akhirnya menjadi faktor risiko kematian dini (Hyo-Weon Suh, Park, Jang, & Kim, 2021).

Emosi yang tertekan juga bisa keluar dalam bentuk mimpi dan bahkan mimpi buruk lho. Jika kamu terus-terusan mencoba menyembunyikan suatu emosi dalam kehidupan nyata, hal itu bisa saja terungkap dalam mimpi kamu (Parvez, 2023). Jika kamu membiarkan emosi tersebut tidak terekspresikan, mungkin kamu akan mengalami mimpi yang berulang tentang hal tersebut. Hal ini bisa menurunkan kualitas tidur kamu. Selanjutnya adalah dapat menyebabkan individu lari ke hal-hal yang membuat individu tersebut mengalami ketergantungan zat adiktif seperti obat-obatan, porn dan minuman keras.

    Lihat saja dunia kerja. Misalkan saja, kamu adalah karyawan yang kena tegur oleh atasan karena projek kerja yang tidak berjalan dengan baik.  Kamu merasa alasannya adalah karena satu tim yang tidak bisa diajak bekerja sama.  Kamu juga sering dimarahi untuk sesuatu yang bukan salah kamu. Beban kerja yang sangat berat, belum lagi tidak pernah mendapatkan uang lembur. Namun, biasanya karyawan akan menerima apa saja caci maki atasan tanpa ada perlawanan. Mengangguk-angguk mengiyakan apa saja yang dilontarkan oleh atasan, padahal dalam hati berkata lain. Lalu apa alasannya? Pertama karena tidak ada power. Kedua, memiliki kekuatan untuk speak up, tapi ada rasa takut, bagaimana jika hubungan dengan atasan dan rekan kerja memburuk?. Mau berhenti kerja, dunia pengangguran lebih menakutkan.

 Jadilah si karyawan memilih diam. Menekan semua emosi yang ia rasakan. Karyawan kantor atau lebih popular dengan sebutan budak korporat, sepertinya selalu butuh tempat seperti pegunungan, laut, pantai, dengan pemandangan yang luas untuk berteriak. Mengeluarkan segala uneg-uneg mereka sebagai self recharge. Karena waktu 2 jam di tempat karoke masih terasa kurang. Dan tak jarang juga di film-film biasanya diperlihatkan bagaimana pekerja-pekerja melarikan diri dengan minum minuman beralkohol sampai mabuk. Dunia kerja memang bukan hanya tentang beban kerja yang berat, tetapi emosi-emosi yang takkan pernah tersampaikan.

    Bahaya supresi selanjutnya dalam durasi yang lama adalah berujung hilangnya nilai sosial dan moral. Penelitian menunjukkan bahwa memendam emosi dapat membuat orang menjadi lebih agresif (Husaein dkk, 2011). Tanpa kita sadari perasaan marah, cemas, diam, yang tidak mampu diekspresikan dapat menghabiskan banyak energi.  Bahayanya sebuah emosi (lebih sering marah, kesal, kecewa) jika  terus ditahan pada jangka waktu lama dan tidak diselesaikan, maka akan memicu respon psikologis yang terganggu, sehingga amarah yang ditekan tidak kunjung hilang.

Mengutip quote popular dari bapak Sigmund Freud,

“ Unexpressed emotions will never die. They are buried alive and will come forth later in uglier ways" 

” Emosi yang tidak terekspresikan tidak akan pernah mati. Mereka terkubur hidup-hidup dan nantinya akan muncul dengan cara yang lebih buruk”

Makannya sering kita dengar berita seseorang membunuh karena motif sakit hati. Kalau membunuh langsung pakai pisau, si tersangka masih bisa diperkarakan. Tapi kalau sudah dilukai, dibunuh dari jarak jauh dan tanpa menyentuh dengan menggunakan ilmu teman-teman demit khas budaya nenek moyang, yang katanya masih lestari sampai sekarang. Duuuuh, mana iman tidak ada sebesar biji sesawi? Korban mati, si tersangka tidak dapat dilihat dan tidak dapat dibuktikan.

    Bacalah berita bagian kriminal, pernah seorang anak membunuh kedua orang tuanya, mahasiswa membunuh dosen, asisten rumah tangga membunuh majikan, seorang wanita dan pria dibunuh teman sepermainan, istri membunuh suami dan sebaliknya. Bahkan ada korban bullying yang sampai membakar sebuah sekolah.  Kata- kata yang tak jarang keluar dari orang terdekatnya “ih padahal anaknya baik, anaknya orang tenang, anaknya pendiam, gak pernah marah, tidak suka melawan dan sikap baik lainnya".

    Memang jika kita tidak melakukan supresi emosi, kita mempertaruhkan sisi kemanusiaan kita. Misalnya zaman sekarang bisa saja disebut problematik. Akan dicap sebagai anak durhaka, dan kita juga bisa kehilangan pekerjaan. Faktanya, memang setiap emosi  hanya memiliki dua pilihan yaitu ditekan atau dilepaskan. Namun, sisi negatif selalu ada, saat kita menekan emosi tersebut. Jika kita terlalu sering menekan emosi akan berdampak pada kesulitan memahami perasaan orang lain, khususnya perasaan marah, kecewa, kesal sehingga berimbas pada berkurangnya rasa empati.

Banyak orang percaya bahwa mengekspresikan emosi marah, kecewa, kesal membuat seseorang tampak lemah dan kurang kendali (si tukang marah-marah). Alasan lainnya adalah  menjaga citra diri tidak ingin menjadi orang yang tak disukai oleh orang lain. Berada di zona nyaman atau sebagai perlindungan diri.   

    Hari ini ada orang lain yang membuat kamu sakit hati, ekspresikanlah emosi kamu. Carilah strategi untuk mengekspresikan emosi kamu dengan baik, tanpa menyinggung orang lain. Tapi kalau hari ini orang lain membuat kamu kesal, sakit hati, dan kamu tetap menyimpan emosi kamu. Dalam suatu situasi, kamu sedang dalam mood yang buruk, semua emosi terkumpulkan, setan membisikkan sesuatu, dan imanmu sedang tidak kuat. Bisa jadi orang lain kamu bakar hidup-hidup. Atau pilihan yang lain kamu semakin menyakiti diri kamu. Karena ternyata kamu tidak tahan lagi menekan emosi terlalu lama.

Emosi seperti marah, sedih, kecewa, bukan lah emosi negatif yang tabu untuk diekspresikan ya. Sebenarnya, ketika kita sedang merasakan perasaan tertentu, ada pesan tersembunyi lho dari tubuh kita. Namun, memahami pesan itu merupakan tantangan tersendiri bahkan cara membangun kesadaran aman terhadap rasa emosi tersebut, mengelolanya tanpa menekan dan menyampaikan secara apa adanya.

    Kemampuan dalam meregulasi emosi sangat dibutuhkan dalam kehidupan sehari-hari. Baik untuk berinteraksi, menyesuaikan diri dalam lingkungan yang baru, tuntutan dalam dunia pekerjaan atau ketika berhubungan dengan orang lain.  Keterampilan berkomunikasi merupakan kunci dalam mengekspresikan emosi. Manfaatnya agar kita dapat bertanggungjawab dengan emosi yang dirasakan. Marah, kecewa, sedih bukanlah sesuatu yang dilarang. Hanya saja, kita perlu mengetahui konteksnya terlebih dahulu. Ketika terus menerus menahan emosi, maka hal ini dapat meluapkan seakan tanpa kendali yang membuat kita sulit mengendalikannya. Lebih baik untuk meluapkan perasaan dibandingkan hanya memendamnya saja. Cukup sampaikan yang dirasakan sesuai kebutuhannya, jangan hanya ditekan.

Jika kamu melakukan supresi dalam situasi yang memang kamu tidak bisa kendalikan, kamu marah, kesal, dan kecewa. Kamu bisa mengekspresikan emosi kamu dengan katarsis seperti yang telah dijelasakan di artikel – artikel sebelumnya. Bisa lewat konseling, jurnalling, self talk, atau minimal sharing kepada orang yang kamu percaya.

    Jadi, apakah kamu orang yang paling sering melakukan supresi emosi? Atau malah menjadi tersangka, membuat orang lain sering melakukan supresi emosi? Mungkin karena cara komunikasi mu yang buruk atau anger management yang tak terlatih?

Saat ini, mari refleksikan diri banyak-banyak ya, selain memikirkan emosi diri sendiri, pekalah juga terhadap emosi orang lain dalam konteks yang tepat. Jangan selalu memikirkan kita adalah korban, bisa jadi kita pelaku selama ini. Coba pikirkan sejenak? Apa yang kamu rasakan? Apa yang kamu dapatkan?  boleh tulis dikolom komentar ya.

  see you in next article💗

Publish : Love Your Self Indonesia

Referensi :

Butler EA, Egloff B, Wlhelm FH, Smith NC, Erickson EA, Gross JJ. The social consequences of expressive suppression. Emotion. Published online March 2003:48-67. doi:10.1037/1528-3542.3.1.48

Chapman BP, Fiscella K, Kawachi I, Duberstein P, Muennig P. Emotion suppression and mortality risk over a 12-year follow-up. Journal of Psychosomatic Research. Published online October 2013:381-385. doi:10.1016/j.jpsychores.2013.07.014

Hosseini SH, Mokhberi V, Mohammadpour RA, Mehrabianfard M, Lashak NB. Anger expression and suppression among patients with essential hypertension. International Journal of Psychiatry in Clinical Practice. Published online April 28, 2011:214-218. doi:10.3109/13651501.2011.572168

Hyo-Weon Suh, 1. K.-B.-Y., Park, M., Jang, B.-H., & Kim, J. W. (2021). How Suppressed Anger Can Become an Illness: A Qualitative Systematic Review of the Experiences and Perspectives of Hwabyung Patients in Korea. Front Psychiatry. doi:10.3389/fpsyt.2021.637029

Lolita, L. (2019). 6 Pembunuhan menghebohkan karena sakit hati, terbaru siswi SMK Bogor. Retrieved from Brilio.net: https://www.brilio.net/duh/6-pembunuhan-menghebohkan-karena-sakit-hati-terbaru-siswi-smk-bogor-190110v.html

Nadhiroh, Y. F. (2015). Pengendalian Emosi (Kajian Religio-Psikologis Tentang Psikologi Manusia. Jurnal Saintifica Islamica, 2, 53-63.

 Schultz, Duane P., & Sydney, E. Schultz. (2017). Theory of personality (11th ed). United States of America: Thomson Wadsworth


 

Menangis, Cara Baik untuk Menghilangkan Stres


Penulis: Glory Sepsi Sinaga, S.Psi


"Menangislah, kan kau juga manusia

Mana ada yang bisa, Berlarut-larut

Berpura-pura sempurna (Lirik lagu Jiwa yang bersedih, Ghea Indrawari)”

How You Doin, Soulmate LYS? Apakah belakangan ini Soulmate LYS sedang bersedih, suka menangis diam-diam, sembunyi-sembunyi? Saat ini tidak ada tempat untuk berkeluh kesah, tidak ada pondasi untuk bersandar, dan soulmate LYS juga sedang merasa kesepian. Saat ini sedang stres, sedang banyak masalah, kehidupan berjalan tidak sesuai harapan? Sedang mengalami kegagalan, putus cinta, atau sedang burnout di tempat kerja?

    Jika memang sedang lelah, bersedih dan ingin menangis, menangis lah! Seperti lirik  lagu diatas yang menjadi pembukaan artikel ini. Soulmate LYS tidak perlu takut merasa paling lemah jika menangis. Menangis itu bukan hanya untuk anak kecil. Menangis itu bukan berarti aku, kamu, kita, memiliki sikap kekanak-kanakan. Orang dewasa juga butuh menangis lho. Karena perjalanan menjadi dewasa itu memang tidak mudah. Kita sering terjatuh dan  kita juga bisa rapuh.

  Seseorang bisa saja menangis karena bahagia, terharu, marah, terkejut akan situasi terduga atau senang karena karena pencapaian tertentu. Menangis adalah mengeluarkan air mata bisa jadi tersedu-sedu, menjerit, meraung atau bahkan tidak mengeluarkan suara. Nah, di artikel kali ini akan dibahas bagaimana menangis bisa menghilangkan stres dan bermanfaat bagi kesehatan mental kita.

    Stres adalah perasaan yang umumnya dapat kita rasakan saat berada di bawah tekanan, merasa kewalahan, atau kesulitan menghadapi suatu situasi. Stres dalam batasan tertentu bisa menjadi hal yang positif bagi kita, karena menjadikan hidup lebih tertantang. Namun, jika sudah melampaui batasan itu bisa menimbulkan masalah fisik maupun masalah psikologis. Stres tidak bisa dihindari oleh manusia dan tidak mungkin bisa dihilangkan dari kehidupan manusia. Hal yang bisa dilakukan adalah hanya mencari cara, supaya stres tersebut tidak  berlangsung lebih lama dan membuat individu menjadi lebih menderita.

    Masing-masing individu memiliki strategi mengatasi stres yang berbeda-beda, karena sumber stresnya juga berbeda-beda. Ada yang menghindari sumber stres untuk mengatasi rasa tertekan, ada pula yang mencari cara untuk menyelesaikan masalah yang menyebabkan stres. Strategi yang digunakan oleh individu dalam mengatasi stres inilah yang disebut coping stress. Coping stress adalah suatu proses pemulihan kembali dari pengaruh pengalaman stres atau reaksi fisik dan psikis yang berupa perasaan tidak enak, tidak nyaman atau tertekan yang sedang dihadapi individu. Hal ini bisa  meliputi strategi kognitif dan perilaku. Strategi ini digunakan untuk mengelola situasi penuh stres dan emosi negatif yang tidak menguntungkan (Andriyani, 2019). 

“And so I cry sometimes 
when I'm lying in bed
Just to get it all out what's in my head
  (Lirik lagu What’s Up, 4 Non Blodes)”

     Nah, menangis bisa menjadi salah satu coping stress yang baik lho. Penelitian yang dilakukan oleh Tri Agus Subekti pada tahun 2014, menemukan bahwa menangis mampu mempertahankan kesehatan mental, dan memperoleh hal yang positif setelah menangis. Hal positif yang didapatkan antara lain, membuat pikiran lebih tenang, membantu meringankan masalah, membantu pengendalian diri, menyalurkan emosi dan masalah, menjernihkan pikiran, serta semakin mendekatkan diri pada Tuhan.

Selain itu, berikut hal- hal baik yang terjadi jika menangis saat kita merasa stres:

    • Mengurangi tingkat stres karena  merangsang produksi endorfin tubuh. Hormon endorfin adalah senyawa kimia yang dihasilkan oleh tubuh sebagai pereda rasa nyeri alami ketika sakit atau stres setelah kita menangis.
    • Mendapatkan perasaan yang lebih lega
    • Menambah percaya diri dan pribadi yang kuat,  
    • Membuat pikiran menjadi produktif kembali untuk mencari solusi permasalahan yang sedang dihadapi
    • Lebih mampu menerima situasi yang sedang dihadapi terutama ketika proses melalui situasi berduka
    • Membuat suasana hati menjadi lebih baik
    • Berpikir positif dan menghargai diri sendiri
    • Menjadi detoksifikasi bagi tubuh, yaitu membuang racun tubuh melalui air mata.

Menangis itu hal yang wajar bagi perempuan maupun laki-laki. Jangan gengsi sama diri sendiri, kalau ingin menangis ya! Terutama buat laki-laki yang sering mendapatkan stigma “Laki-laki itu tidak boleh Cengeng!!” atau perempuan yang merasa keberatan dan rugi untuk menangis, karena harga make-up dan skincare sangat mahal Hmmm!

Sering menahan tangis akan berdampak buruk bagi diri kita dan menjadi stress emosional. Selanjutnya, akan terjadi gangguan suasana hati, kecemasan, dan ledakan emosi emosi yang lebih parah di kemudian hari. Tapi jangan menangis dalam jangka waktu yang lama juga ya. Sesuatu yang berlebihan tidak pernah baik bagi tubuh.

So, Soulmate LYS Menangislah Bila Ingin Menangis. Menangislah ditempat yang tenang dan aman, bersama orang yang mampu memberikan kenyamanan dan luapkan emosi dengan nyaman.

 see you in next article💗

Referensi:

Andriyani, J. (2019). Strategi Coping Stres Dalam Mengatasi Problema Psikologis. Jurnal At-Taujih, 2, 37-55.

Bekti, T. A. (2014). Menangis Sebagai Metode Dalam Kesehatan Mental. Yogyakarta: Universitas Islam Negeri Sunan kalijaga.

 Ciccarelli, S. K. 2015. Psychology 3ed.USA: Pearson.

Ghea Indrawari. 2023. Lagu Jiwa yang bersedih.

4 Non Blodes. 1992. What's Up Song.

 First Publish : Love your Self Indonesia